Move On-nya Motif Etnik jadi Fashion Modern

Fashion merupakan salah satu industri yang sangat berkaitan dengan kreativitas. Kreativitas para creator di bidang fashion juga sudah teruji dengan banyaknya gebrakan atau inovasi yang dibuat oleh para creator tersebut. Karena memang untuk memenuhi keinginan pasar dan membuat industri ini terus berkembang, kreativitas adalah kunci. Namun, banyak juga yang bilang bahwa tren fashion sebenarnya berputar. Apa yang pernah menjadi tren di masa lalu, bisa menjadi tren lagi di masa kini atau di masa yang akan datang. Salah satu yang sebenarnya tidak baru, namun kerap diproduksi ulang adalah tentang motif, khususnya motif etnik.

Motif etnik terkadang masih diidentikkan dengan sesuatu yang tradisional dan bahkan terkesan kuno. Hal ini dikarenakan asal muasal motif-motif etnik ini sendiri yang memang memiliki akar tradisi. Misalnya saja, motif kain Ulos yang merupakan kain tradisional bermotif khas dari Sumatera Utara yang sejak zaman dahulu dikenakan sebagai pelengkap pakaian tradisionalnya.

Namun, seiring perkembangan zaman dan industri fashion, kain-kain tradisional ini mengalami “kenaikan kelas”. Maksud kenaikan kelas ini bukanlah menjadikan kain-kain ini lebih bermakna, karena sudah sedari dulu kain-kain ini memiliki makna tersendiri dan memang sangat indah. Namun, kain-kain ini mengalami proses modern yang membuat mereka dapat disulap menjadi pakaian yang lebih modern. Berikut beberapa contohnya:

1.     Ulos

Sumber: matawanita.tumblr.com

2.     Lurik

Sumber: instagram.com/lululutfilabibi

3.     Songket Lombok

Sumber: life.viva.co.id

4.     Tenun Ulap Doyo

Sumber: instagram.com/kutainese

Melihat contoh-contoh di atas, apakah kamu sudah mengubah pikiran mengenai motif-motif kain tradisional? Keren sekali, bukan, melihat kain-kain tersebut mengalami proses move on sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman, dan tidak akan terkikis oleh budaya yang senantiasa berubah? Dengan mengembangkan motif-motif tradisional, secara otomatis motif-motif tersebut mengalami proses pelestarian, karena akan tetap ada yang memproduksi dan menggunakan motif tersebut walaupun zaman akan terus berganti.

Nah, selain pakaian, motif etnik tradisional juga menjadi inspirasi bagi pengrajin sepatu, lho. Sudah tidak jarang kita temui sepatu yang memiliki motif etnik tradisional, namun model dan bentuknya tidak lagi tradisional. Hal ini merupakan hal yang baik, karena artinya motif etnik tradisional tidak berhenti menjadi inspirasi para pengrajin pakaian saja, namun juga pengrajin alas kaki.

Imadel by Areta

Salah satu sepatu dengan motif etnik yang kece adalah sepatu Areta Imadel ini. Sepatu ini menggunakan bahan tenun NTT. Walaupun motifnya tradisional, modelnya modern. Sepatu ini adalah jenis salah satu sepatu slip on, yaitu loafer yang tidak memiliki heel. Warna yang mendominasi sepatu ini adalah ungu, sehingga tidak terlalu terang dan masih bisa dipadupadankan dengan pakaian-pakaian berwarna lain.

Corak tenun menjadikan sepatu ini memiliki “keramaian”-nya sendiri. Sehingga untuk melakukan padu padan, harus memperhatikan pakaian yang akan dipakai, supaya tidak tabrak motif. Akan lebih baik jika dipadankan dengan pakaian polos atau tanpa motif. Kecuali memang kamu menginginkan tabrak motif.

Devina C untuk ShoesVaganza

jasa pembuatan website
Web Analytics